Ketika sebuah anak lahir ke dunia, ia tidak pernah memilih keluarganya.
Ia tidak memilih siapa ayahnya.
Ia tidak memilih siapa ibunya.
Ia bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan.
Namun sejak hari pertama hidupnya, ia mempercayakan seluruh hidupnya kepada dua orang: orang tuanya.
Seorang anak kecil percaya bahwa ayahnya adalah orang terkuat di dunia.
Ia percaya ibunya adalah tempat paling aman untuk pulang.
Bahkan ketika dunia terasa menakutkan, cukup ada orang tuanya… maka semuanya terasa baik-baik saja.
Sayangnya, seiring waktu, tidak semua anak tumbuh dengan kenyataan yang sama indahnya.
Ada anak yang melihat ayahnya pulang dengan wajah lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum agar anaknya tidak khawatir.
Ada anak yang melihat ibunya menahan air mata di dapur, tetapi berpura-pura kuat di depan keluarga.
Namun ada juga anak-anak yang tumbuh dengan luka yang tidak mereka mengerti.
Luka karena sering dimarahi tanpa dipahami.
Luka karena dibandingkan dengan orang lain.
Luka karena merasa keberadaannya seperti tidak diinginkan.
Yang paling menyedihkan, banyak anak yang sebenarnya tidak membutuhkan hal yang rumit.
Mereka tidak selalu meminta mainan mahal.
Mereka tidak selalu meminta kehidupan yang mewah.
Sering kali yang mereka inginkan hanya hal yang sangat sederhana:
Didengar ketika mereka bercerita.
Dipuji ketika mereka berusaha.
Dipeluk ketika mereka merasa takut.
Seorang anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang diberikan orang tuanya.
Tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana mereka diperlakukan.
Mereka akan mengingat apakah rumah adalah tempat yang membuat mereka merasa aman…
atau justru tempat yang membuat mereka ingin segera pergi.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya tumbuh dari makanan dan pendidikan.
Mereka tumbuh dari suasana hati rumah tempat mereka dibesarkan.
Dan sering kali, ketika seorang anak tumbuh menjadi orang dewasa, kita baru menyadari satu hal yang sangat dalam:
Cara kita memperlakukan anak hari ini…
akan menjadi suara di dalam kepala mereka sepanjang hidup mereka.
Jika suara itu penuh kasih sayang, mereka akan tumbuh dengan percaya diri.
Namun jika suara itu penuh luka…
mereka mungkin akan menghabiskan bertahun-tahun hidupnya hanya untuk menyembuhkan masa kecilnya sendiri.